Home     Xml Feed    Submit Articles     Editor Login
More4you Article Directory
  RSS Feeds   Add us to favorites
  Make us your home page
You want more tips, training and tutorials... everything you need to make your web site and business a success?

You get that and much more with the More4you Blogletter!

Subscribe today for free!

First name:

Email address:


Sponsors
  • Cash in on the multi billion dollar domain name industry!
  • sponsor WebSite.ws
  • Earn an Instant Income, Track, Cloak And List Build 100% on Autopilot!
  • sponsor ViralURL.com
  • Get FREE Instant Access To A Brand New, Rebrandable Product Each & Every Month To Build A List & Profit!
  • sponsor ViralPLR.com
  • An All-in-One Email Solution For Internet Professionals!
  • sponsor ViralinBox.com
  • The Web Host Top Internet Marketers Choose...
  • sponsor WebHostingSecret.com
    Categories
    Advertising
    Advice
    Affiliate Programs
    Auto & Trucks
    Awards
    Blogs
    Book Reviews
    Business
    Careers
    Communication
    Computers
    Copywriting
    CSS
    Dating
    Direct Mail
    Domain Names
    EBooks
    ECommerce
    Education
    Email
    Entertainment
    Environment
    Family
    Finance
    Fitness
    Food & Drink
    Free
    Gadgets & Gizmos
    Gambling
    Gardening
    Government
    Health
    Hobbies
    Home Accessories
    Home Business
    Home Repair
    HTML
    Humor
    Insurance
    Internet
    Investment
    Kids & Teens
    Law
    Link Popularity
    Malware
    Management
    Marketing
    Marriage
    Men`s Issues
    Metaphysical
    MLM
    Motivational
    Movies
    Multimedia
    Music
    Newsletters
    Non-Profit
    Off-Line Promotion
    Online Business
    Online Promotion
    Other
    Outdoors
    Parenting
    Pets & Animals
    Politics
    Press Releases
    Product Reviews
    Psychology
    Publishing
    Real Estate
    Recreation
    Relationships
    Religion & Faith
    RSS
    Sales
    Scams
    Science
    SE Optimization
    SE Positioning
    SE Tactics
    Security
    Self Help
    Sexuality
    Site Security
    Social Issues
    Spam
    Spirituality
    Sports
    Technology
    Traffic Analysis
    Travel
    Viral Marketing
    Web Design
    Web Hosting
    Webmasters
    Weight Loss
    Women`s Issues
    Writing


    ML Nikmat Dengan Ika Putri Mami Kost Yang Bahenol
    Author: Antwan Thorne
    Website: http://windomino.com
    Added: Thu, 22 Nov 2018 10:57:34 +0000
    Category: Entertainment
    Printable version | Email | Bookmark

    Cerita Sex – Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku rupawan. Badanku tinggi dan tegap, mungkin sebab aku selalu berolahraga seminggu tiga kali. Teman-temanku bilang, apabila saya bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati melekat padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya telah sepakat kami nanti menikah.

    Cerita Ngentot Sedap Dengan Ika Kecil Ibu Kost

    Tempat kos-ku dan tempat kos-nya cuma berjarak sekitar 700 m. Saya sendiri telah dipegangi kunci kamar kosnya. Padahal demikian bukan berarti saya telah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam permasalahan pacaran, kami telah saling cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Tapi seluruh itu kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh padahal hanya seperti itu, sekiranya "voltase"-ku sudah betul-betul tinggi, saya dapat "muntah" juga. Ia ialah seorang yang menjaga keperawanan hingga dengan menikah, sebab itu ia tak ingin berkaitan sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, karenanya sampai dikala itu saya belum pernah menikmati memek perempuan.

    Pacarku seorang si kecil bungsu. Kecuali kolokan, ia juga seorang pengecut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan ia belajar atau melaksanakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tetamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar, adalah 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tetamu dengan ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara kedua ruang itu cuma ditutup dengan kain korden.lbu kost-nya memiliki empat buah hati, seluruh perempuan. Semua manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Kecil yang pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan buah hati bungsu masih di SMP. Berdasarkan desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya buah hati pertama adalah sebab hamil duluan. Kemudian si kecil yang kedua malahan telah mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Ia diinfokan sudah pernah hamil dengan pacarya, melainkan digugurkan. Berdasarkan penilaianku, Ika seorang playgirl. Meskipun sudah punya pacar, pacarnya kuliah di suatu politeknik, tapi dia menyenangi mejeng dan menggoda laki-laki lain yang nampak keren. Apabila saya datang ke kos pacarku, dia bahkan menyenangi mejeng dan bersikap genit dalam menyapaku.lka memang mojang Sunda yang betul-betul aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya ramping. Sore dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar, kecuali melebar dengan menawannya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang telah terwujud sedemikian menawannya sebab terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus dan mulus. Lehernya tahapan. Matanya bagus. Hidungnya imut dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga jikalau mengaplikasikan lipstik tidak perlu membuat garis baru, tinggal meniru batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.Sudah itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di selasar rumah terlihat Ika sedang berbicara dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan pakaian atas "you can see" dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya."Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah.. sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua sahabatnya. Katanya berkeinginan bikin tugas," sapa Ika dengan centilnya."He.. masa?" balasku."Iya.. Sinting, ngapelin Ika sajalah Mas Bob," kata Ika dengan senyum menarik hati. Sekiranya! Cewek Sunda satu ini benar-benar menarik hati impian. Seandainya ingin mengajak beneran aku tak menolak nih, he-he-he.."Ah, neng Ika tipe-ragam saja..," tanggapanku sok menjaga wibawa. "Kak Dai belum datang?"Pacar Ika namanya Daniel, tetapi Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai yakni panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Ia ngapeli si kecil yang masih SMA ragam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai malam hari. Lebih hebat dan saya, dan selama ngapel waktu ia habiskan untuk ngobrol. Atau jikalau sesudah waktu isya, ia masuk ke kamar Ika. Kapan ia punya kans belajar?"Wah.. dua bulan ini aku menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau. Makanya carikan sahabat Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tak kesepian.. Gila yang keren lho," kata Ika dengan bunyi yang amat manja. Apabila si playgirl Sunda mi. Dia bukan variasi orang yang ngomong semacam itu bukan sekadar bercanda, namun jenis orang yang menyukai nyerempet-nyerempet hat yang membahayakan."Neng Ika ini.. Nanti Kak Dai-nya ngamuk dong.""Kak Dai kan tak akan tahu.."Saya kembali mengumpat dalam hati. Perempuan Sunda variasi Ika ini memang enak ditiduri. Saya digenjot dan dirasakan kekenyalan komponen-bagian tubuhnya.Saya mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di ruang tetamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi memo tadi. "Mas Bobby, gue ngerjain tugas kategori bersama Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tak pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina"Saya mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di daerah kos Di. Sambil menyetel radio dengan bunyi perlahan, saya mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam sepuluh malam.Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok..Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang sudah kututup pada jam delapan malam tadi, sesuai dengan tradisi pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu."Mbak Di.. Mbak Dina..," terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Saya membuka pintu."Mbak Dina telah pulang?" tanya Ika."Belum. Hari ini Dina tak pulang. Tidur di rumah sahabatnya sebab banyak tugas. Ada apa?""Sejenak pinjam kalkulator, mas Bob. Gunakan saja. Buat bikin pe-er.""Ng.. bolehlah. Dikala kalkulatorku saja, asal kencang kembali.""Beres deh mas Bob. Ika bermufakat," kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda menggemaskan.Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Tapi berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku untuk meremas-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Bajunya "boy-ku" ini responsif sekali jika ada cewek cakep yang enak digenjot.Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berfokus. Namun kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas sarjana itu.Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok."Mas Bob.. Mas Bob..," terdengar Ika memanggil lirih.Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan senyum genitnya. Baju bukan atasan "you can see" yang diterapkan sebelumnya. Dia menggunakan baju yang cuma setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya. Telah tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya terlihat membusung dengan gagahnya, yang ujungnya kelihatan dengan tajam dan batik pakaiannya. Sepertinya ia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya. Tadi, bau parfum harum semacam ini tak tercium sama sekali, berarti datang yang kali ini si Ika melowongkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink."Ini kalkulatornya, Mas Bob," kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku."Sinting selesai. Neng Ika?" tanyaku basa-basi."Edan Mas Bob, tapi boleh Ika meminta diajarkan Matematika?""0, boleh saja bila apabila dapat."Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas meja tetamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa tempat duduk. Saya digelari karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku. Aku bahkan duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku bila ingin disengaja terbuka semestinya diganjal potongan kayu kecil."Ini mas Bob, Ika ada soal seputar bunga majemuk yang tak tahu metode penyelesaiannya." Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kans memandang ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tak menggunakan bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya nampak benar-benar jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa mengeras dan sedikit berdenyut-detak.Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal hal yang demikian. Soalnya cukup mudah. Saya membeberkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada Ika. Uhhh.. ranum dan segarnya."Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?" tanyaku sambil menelan ludah. Bila bapaknya tak aku tanyakan karena ia bekerja di Cirebon yang pulangnya tiap-tiap akhir minggu."Gila. Mamah telah tidur jam separuh delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi," jawab Ika dengan tatapan mata yang menarik hati.Hasratku mulai naik. Tapi tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya telah tidur. Kamar kos sebelah telah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti penghuninya juga sudah tidur. Jikalau kupaksa ia meladeni hasratku, dayanya tak akan berarti dalam melawanku. Dia mengapa ia akan melawanku? jangan-jangan ia ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu cuma sebagai atasan saja. Bukankah dia meluangkan ganti pakaian, dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separo payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan melowongkan tak mengaplikasikan bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tak menyodorkan din?Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku."Mas Bob.. ini benar nggak?" tanya Ika.Ada kesalahan di tengah jalan ketika Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, saya mengambil pensil dan membeberkan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau mengamati hal yang kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Ia.. gumpalan daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun dikala dia lebih menekanku terasa lebih kenyal. Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya."Ih.. Mas Bob jahil deh tangannya," katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura menjauh."Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Sore dadanya menyodok-nyodok lenganku," jawabku.lka cemberut. Ia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kekeliruan, tapi berdasarkan perasaanku itu cuma berpura-pura saja. Saya merasa kian ditantang.Tapi aku tak berani? Memangnya saya impoten? Ia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia melowongkan gunakan parfum. Dia sengaja mengaplikasikan baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Ia sengaja tidak pakai bra. Artinya, ia telah mempersilakan diriku untuk merasakan kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, ingin menyia-siakan peluang yang dia berikan atau memanfaatkannya. Jikalau saya menyia-siakan berarti aku band!Saya malah bangkit. Saya berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam melakukan soal. Saya mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu terlihat licin mengkilap padahal ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit terkejut dikala merasa ada yang merekat punggungnya."Ih.. Mas Bob jangan demikian itu dong..," kata Ika manja."Sinting.. udah-udah.. Saya sekadar mengawasi pekerjaan Neng Ika," jawabku.lka cemberut. Namun dengan cemberut semacam itu, bibir yang sensual itu malahan tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilibas-lumat. Ika berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Saya kian berani. Kontholku kutekankan ke punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Beberapa bendung lagi. Tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-kuluman bibirku yang disisipi dengan permainan lidahnya. Saya bahkan dalam persoalan ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA telah sangat terampil. Aku menumbangkan kemahiranku.Kini saat kemudian ciumanku bermigrasi ke lehernya yang level. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku bermigrasi ke buah dadanya. Sore dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Gila-kadang dan batik kain licin pakaian atasannya, putingnya kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa mengeras."Mas Bob, Mas Bob buka pakaian saja Mas Bob..," rintih Ika. Tanpa menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tali baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya. Saya terpana mengamati kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain bahkan. Sore dadanya yang padat membusung dengan menawannya. Ditimpa cahaya lampu neon ruang tamu, payudaranya tampak sungguh-sungguh mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di sekitarnya berwarna cokelat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.Celana panjang yang telah dibuka oleh Ika kulepas dengan seketika. Menyusul. kemeja dan t-shirt singlet kulepas dan tubuhku. Sekarang saya hanya tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan wujud pinggangnya yang ramping dan wujud pinggulnya yang melebar dengan baiknya. Ika malahan melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang cantik itu kini cuma terbungkus celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana dalam itu tak kapabel menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang terbalutkan di dalamnya. Juga, sebagian helai jembut Ika terlihat keluar dan lobang celana dalamnya.lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia melihat ke arah kontholku yang besar dan panjang, yang terlihat dari balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang telah menggelegak. Aku saya mendekatkan badanku ke badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika bahkan mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Saya dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.Ciumanku bermigrasi ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku bisa menciumi segenap pori-pori kulit lehernya."Ahhh.. Mas Bob.. Ika telah menginginkannya dan kemarin.. Gelutilah tubuh Ika.. puasin Ika ya Mas Bob..," bisik Ika terpatah-patah.Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya. Payudaranya semacam itu menggembung dan padat. tetapi berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja mengaplikasikan parfum di sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat jurang di antara kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya malah kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang."Mas Bob.. ngilu.. ngilu..," rintih Ika.Gelinjang dan rintihan Ika itu kian membangkitkan hasratku. Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika kian menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil mulutnya mendesah-desah."Aduh mas Booob.. ssshh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. ssshhh.. geli.. geli..," hanya kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang menstimulus.Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Jika payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang seandainya gigi dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan sekuat-kuatnya."Mas Booob.. kau nakal… ssshhh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. geli.." Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.Perlahan puas dengan payudara, saya meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang rata dan berkulit betul-betul mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Saya malah berfokus mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku menyusup ke belakang dan meremas-remas bokongnya yang melebar dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi bokongnya itu. Aku-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat bokongnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan kakinya, celana dalamnya telah terterjang ke bawah.Malah berikutnya, terhamparlah panorama yang luar umum merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna cokelat tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku bahkan ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku bahkan mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Sesekali terang seandainya Ika sungguh-sungguh menikmati permainan ini.Saya kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas hingga kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika pelan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting payudaranya."Au Mas Bob.. shhhhh.. betul.. betul di situ mas Bob.. di situ.. sedap mas.. shhhh..," Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan menawan bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya malahan berkerut tanda ia sedang mengalami kenikmatan yang semakin meninggi.Saya meneruskan permainan lidah dengan menjalankan jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.Sebab gerakan ujung hidungku pun secara terpola meraba memek Ika. Terasa benar malahan dinding vaginanya mulai berair. Saya beberapa cairan vaginanya mulai mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Ketika pinggulnya bergetar. Di saat bergetar itu pinggulnya yang padat dan betul-betul mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya."Mas Booob.. sedap sekali mas Bob..," Ika mengerang dengan kerasnya. Aku lantas memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tikaman-tusukan ujung hidung di vaginanya. Aku lama Miss V itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke lobang memeknya. Perlahan masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa agar kena "G-spot"-nya. Dan berhasil!"Auwww.. mas Bob..!" jerit Ika sambil menyentakkan bokong ke atas. sampai-hingga jari tangan yang telah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu malahan menghantam ke wajahku. Bau harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.Aku langsung memasukkan kembali dua jariku ke dalam organ intim wanita Ika dan melaksanakan gerakan yang sama. Kali ini saya mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika. Kelentit itu tampak kian menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan mengisapnya. Tetapi kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam. Sementara pinggulnya yang betul-betul duhai itu menggial ke kiri-kanan dengan betul-betul merangsangnya."Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob..," cuma kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya kian bertambah ganas. Ika sambil mengerang-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang bisa ia raih. Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri."Mas Bob.. Ika telah tidak tahan lagi.. Masukin konthol saja mas Bob.. Ohhh.. sekarang juga mas Bob..! Sshhh. . . ," erangnya sambil membendung nafsu yang sudah merajai segenap tubuhnya.Namun saya tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terpenting dulu. Saya berkeinginan membuatnya orgasme, sementara saya masih segar bugar. Sebab itu lidah dan wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya kian kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-bawah, hingga terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang berair itu hingga memunculkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk.. Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:"Ah-ah-ah-ah-ah.."Sementara saya semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Sesudah yang keluar dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Saya mempertahankan kocokan hal yang demikian. Dua menit telah si Ika kapabel bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan nafsu. Payudaranya terlihat kian cepat dan licin, sedang putingnya terlihat berdiri dengan tegangnya.Sampai hasilnya tubuh Ika mengejang hebat. Semua terangkat tinggi-tinggi. Matanya membeliak-beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, "Mas Booo00oob..!" Dua jariku yang tertanam di dalam organ intim wanita Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-jeda celah antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut hingga mencapai pergelangan tanganku.Sekarang detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang seperti itu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Pelan lemah. jari tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku malah kubersihkan dengan kertas tissue.Ketegangan kontholku belum juga berkeinginan berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang meringkuk membisu di hadapanku itu benar-benar wahai. seolah menantang diriku untuk menggambarkan kejantananku pada tubuh mulusnya. Saya pun mulai menindih kembali tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang sebab menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.Perlahan puas melumat-libas bibir. wajahku malahan menelusuri leher Ika yang mulus dan harum hingga alhasil mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya. Sampai kelembutan dan keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Sampai keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela sekiranya ada keharuman yang terlewatkan sedikitpun.Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini saya menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna cokelat."Ah.. ah.. mas Bob.. geli.. geli ..," mulut indah Ika mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Edan remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada putingnya."Mas Bob.. hhh.. geli.. geli.. sedap.. sedap.. ngilu.. ngilu.."Saya semakin gemas. Payudara wahai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan kekuatan isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot cuma putingnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya."Ah.. mas Bob.. terus mas Bob.. terus.. hzzz.. ngilu.. ngilu.." Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya nampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.Hingga walhasil Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Ia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Saya memaklumi maksudnya, langsung kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Tak ia menampilkan rasa terkejut."Apabila.. mas Bob, gila.. Kontholmu besar sekali.. Konthol pacar-pacarku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak hingga sebesar ini Seandainya.. gila..," ucapnya terkagum-terpukau. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremasremas pelan kontholku secara berirama, seolah berupaya mencari kehangatan dan kenikmatan di hatinya menahan kejantananku. Remasannya itu memperhebat vothase dan rasa sedap pada batang kontholku."Mas Bob, kita main di atas kasur saja..," ajak Ika dengan cahaya mata yang telah dikontrol nafsu birahi.Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini betul-betul pendek, dasan kasurnya cuma terangkat sekitar 6 centimeter dari lantai. Tetapi kubopong. Ika tidak ingin melepaskan tangannya dari leherku. Aku, seperti itu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menarik wajahku mendekat ke wajahnya. Saya ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu menggilas bibirku dengan ganasnya. Saya malahan tidak berkeinginan mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kupeluk punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.Kemudian saya menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika. Kesudahannya bibirku bahkan turun. Kukecup dagu Ika yang baik. Kukecup leher tahapan Ika yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia gunakan. Kuciumi dan kugeluti leher cantik itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Walaupun di kulit paha yang licin itu membikin batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli sedap oleh gesekan-friksi paha Ika.Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya saya membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya, wajahku sekarang menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh enak sekali rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Edan payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tidak ubahnya seperti bayi yang menetek susu sesudah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku."Mas Bob.. geli.. geli ..," kata Ika kegelian.Aku tak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dengan tanganku. Melainkan tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika kian menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya."Mas Bob.. mas Bob.. ngilu.. ngilu.. hihhh.. nakal sekali tangan dan mulutmu.. Auw! Sssh.. ngilu.. ngilu..," rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Aku ganas saya mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-detak keenakan menikmati hangat dan licinnya paha Ika.Bandel aku tidak tabah lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku sekarang bermigrasi menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku menuntun kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku bahkan kegelian. Geli melainkan nikmat."Mas Bob.. masukkan seluruhnya mas Bob.. masukkan seluruhnya.. Mas Bob belum pernah menikmati memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno.. tidak mau menikmati konthol sebelum nikah. Aku itu surga dunia.. bagai terlempar langit ke langit ketujuh. mas Bob.."Jari-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah betul-betul tegang. Pahanya yang mulus itu ia buka agak lebar."Bila.. gila.. kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob..," katanya sambil memberi arahan kepala kontholku ke lobang memeknya.Sesaat kemudian kepala kontholku meraba bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini seluruh kepala kontholku malah terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.Aku menghentikan gerak masuk kontholku."Mas Bob.. teruskan masuk, Bob.. Sssh.. sedap.. jangan stop hingga situ saja..," Ika protes atas tindakanku. Melainkan aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tak karuan."Sssh.. sssh.. nikmat.. sedap.. geli.. geli, mas Bob. Geli.. Terus masuk, mas Bob.."Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan.. satu.. dua.. tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan suara: srrrt!"Auwww!" pekik Ika.Aku membisu sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun."Sakit mas Bob.. Gila sekali kau.. bandel sekali kau…" kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.Saya malahan mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Saya tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Semua aku tahu, segala bagian kontholku yang masuk memeknya serasa dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan enak pada batang kontholku."Bagaimana Ika, sakit?" tanyaku"Sssh.. sedap sekali.. sedap sekali.. Barangmu besar dan panjang sekali.. hingga-hingga menyumpal penuh segala penjuru lobang memekku..," jawab Ika.Saya terus memompa memek Ika dengan kontholku pelan-lahan. Payudara kenyalnya yang melekat di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku dampak gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang. Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya searah dengan genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara tiap-tiap kali menusuk masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli enak.Kemudian saya mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tak tercabut dari lobang memeknya, saya mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat cantik itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Perlahan puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Saya hal hal yang demikian kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa sedap di kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.Perlahan puas dengan sistem hal yang demikian, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Gila kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara pelan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah."Ah.. mas Bob, geli.. geli.. Tobat.. tobat.. Ngilu mas Bob, ngilu.. Sssh.. sssh.. terus mas Bob, terus.. Seandainya.. sinting.. kontholmu membikin memekku merasa enak sekali. Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja.. saya sedang tidak subur.Saya mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika."Ah-ah-ah.. benar, mas Bob. benar.. yang cepat.. Terus mas Bob, terus.."Aku bagaikan dikasih spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Saya bagian kontholku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan pesat dan indahnya. Aku juga diriku, mataku malah merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang luar umum di cerita seks panas."Sssh.. sssh.. Ika.. nikmat sekali.. nikmat sekali memekmu.. nikmat sekali memekmu..""Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali.. terusss.. terus mas Bob, terusss.."Saya meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan."Mas Bob.. mas Bob.. edan mas Bob, sinting.. sssh.. sssh.. Terus.. terus.. Sejak hampir keluar nih mas Bob.. sedikit lagi.. kita keluar sama-sama ya Booob..," Ika jadi mengoceh tanpa kendali.Saya mengayuh terus. Saya belum merasa berkeinginan keluar. Melainkan aku sepatutnya membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara kontholku menikmati daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya."Mas Bob.. mas Bobby.. mas Bobby..," rintih Ika. Telapak tangannya membatasi kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.Ibarat pembalap, saya mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya, dibandingi dengan pembalap saya lebih mujur. Di dalam "mengayuh sepeda" saya menikmati keenakan yang luar umum di sekujur kontholku. Sepedaku bahkan mempunyai tenaga tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira."Mas Bob.. ah-ah-ah-ah-ah.. Saya mas Bob, sedap.. Ah-ah-ah-ah-ah.. Sebentar keluar mas Bob.. ingin keluar.. ah-ah-ah-ah-ah.. kini ke-ke-ke.."Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sungguh-sungguh kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan betul-betul kuatnya. Mulut sensual Ika malahan berteriak tanpa kendali:"..keluarrr..!"Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang. Aku malahan menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan membisu tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar awam sebab terkena semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam sebagian dikala dalam menikmati puncak orgasmenya.Perlahan sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. meskipun kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut."Mas Bob.. kau luar awam.. kau membawaku ke langit ke tujuh," kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. "Kak Dai dan pacar-pacarku yang dahulu tak pernah membikin saya ke puncak orgasme seperti ml. Aku Mbak Dina tinggal di sini, Ika menyenangi memperbaiki mas Bob ketika terkait dengan Kak Dai."Aku bersuka cita mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama saya tak bertepuk sebelah tangan. Aku senantiasa membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara ia juga membayangkan kugeluti dalam onaninya. Bagiku. Dina baik diciptakan istri dan ibu buah hati-anakku kelak, tapi tak bisa diacuhkan bahwa tubuh aduhai Ika sedap ditekuni dan digenjot dengan penuh nafsu."Mas Bob kamu seperti yang kubayangkan. Aku jantan.. kamu perkasa.. dan kamu sukses membawaku ke puncak orgasme. Luar lazim nikmatnya.."Aku berbangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai buah hati kecil yang menyenangi kebanggaan, aku berharap menonjolkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku ketika ini baru separuh perjalanan pendakianku di saat Ika telah menempuh orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang sepatutnya menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tak pusing di cerita dewasa lainya.Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah cahaya lampu kuning kulit tubuhnya kelihatan amat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun masih dengan gerakan pelan. Dinding memek Ika secara berargsur-cicil terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan nikmat. Tetapi kini gerakan kontholku lebih lancar diperbandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu."Ahhh.. mas Bob.. kau lantas memulainya lagi.. Tiap giliranmu.. semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku.. Sssh..," Ika mulai mendesis-desis lagi.Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menopang berat badanku, tangan kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, layak dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya."Sssh.. sssh.. sssh.. sedap mas Bob, nikmat.. Terus.. teruss.. terusss..," desis bibir Ika di dikala sukses melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api birahiku.Sambil kembali menggilas bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Sebab adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol malahan diiringi oleh bunyi, "srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret.." Mulut Ika di ketika terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,"Mas Bob.. ah.. mas Bob.. ah.. mas Bob.. hhb.. mas Bob.. ahh.."Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku sekarang dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika malahan memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Saya malahan mengawali serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang berlangsung dengan pesat dan berirama. Aku kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras supaya menikam memek Ika sedalam-dalamnya.Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Hingga di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, "Ak..!" Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya hingga berbunyi: plak! Di dikala bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku bahkan sedikit ikut beratensi keluar, seolah tidak rela apabila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Ika mendesah, "Hhh.."Saya terus menggenjot memek Ika dengan gerakan kencang dan menghentak-hentak. Remasan yang luar lazim kuat, hangat, dan enak sekali berprofesi di kontholku. Tangan Ika meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. bertarungnya daging pangkal paha menimbulkan bunyi: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-srrrt.. srottt-srrrt.. srottt-srrrtt.. Kedua nada hal yang demikian diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:"Ak! Uhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh.."Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa membendung pekikan-pekikan kecil:"Ika.. Ika.. edan.. gila.. Saya sekali Ika.. Memekmu enak sekali.. Memekmu hangat sekali.. edan.. jepitan memekmu enak sekali..""Mas Bob.. mas Bob.. terus mas Bob.." rintih Ika, "Aku mas Bob.. enaaak.. Ak! Ak! Ak! Hhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh.."Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang sedap sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Aku masuk ke dalam, kontholku berupaya menusuk lebih dalam lagi dan lebih pesat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa sedap yang luar lazim di konthol malahan kian menghebat."Ika.. saya.. aku.." Karena membendung rasa enak dan gatal yang luar awam saya tidak sanggup menyelesaikan ucapanku yang memang telah terbata-bata itu."Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob! Ak-ak-ak.. Saya mau keluar lagi.. Ak-ak-ak.. aku ke-ke-ke.."Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdetak dengan betul-betul dahsyatnya. Aku tidak kapabel lagi menahan rasa gatal yang sudah menempuh puncaknya. Tapi pada saat itu juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan sedap sekali itu. saya tak cakap lagi membendung jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, berbarengan dengan pekikan Ika, "..keluarrrr..!" Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-beliak."Ika..!" saya melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah saya sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang tingkatan. Cairan spermaku bahkan tak terbendung lagi.Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa berdenyut-detak.Kini saat lamanya saya dan Ika terdiam dalam kondisi berpelukan erat sekali, hingga-hingga dari alat alat kelamin, perut, sampai ke payudaranya seolah terpateri erat dengan tubuh depanku. Saya menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini semprotannya lebih lemah.Saya-lahan tubuh Ika dan tubuhku malahan mengendur kembali. Saya kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks dengan Ika. Pertama kali saya bermain seks, bidadari lawan mainku ialah perempuan Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Sebagian rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika."Mas Bob.. terima kasih mas Bob. Puas sekali aku. sekali.. sungguh.. enak sekali," kata Ika lirih.Saya tak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang cantik itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke badanku. Baru dikala jam dinding menonjolkan pukul 22:00, saya dan Ika berpakaian kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 saya pulang ke tempat kost-ku sendiri.Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan menggilas-lumat bibirnya beberapa dikala.

    "Mas Bob.. kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob.. Jangan cemas, kita tanpa Ikatan. Ika akan senantiasa merahasiakan hal ini terhadap siapapun, termasuk ke Kak Dai dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercinta dengan mas Bob," seperti itu kata Ika. Aku malahan mengangguk pertanda sepakat. sih yang tak berkeinginan diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Badung ia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya melewati pintu samping. Lima menit kemudian saya baru pulang ke tempat kost-ku.

    View all Antwan Thorne's articles


    About the Author:
    Hello!
    My name is Antwan and I'm a 26 years old boy from Boondall.

    If you loved this short article and you would like to acquire far more details pertaining to abg ngewe kindly visit our website.

    More Entertainment articles


    :- Articles Search

    Click to search for articles!

    :- Recent Articles
    Can I safely order medicines online without a prescription from an online doctor?
    Is there any app for medicine delivery?
    Appoint A Criminal Defense Lawyer As Per Your Needs
    Rangkuman Menyangkut Daftar Website Judi Online Terpercaya
    Hire Dedicated Software Development Team in India Setup Your Offshore Unit
    An Exclusive Webinar on Indian Medical Device Regulatory Landscape - A Deep Dive
    ANATEL Certification Process for Wireless Medical Devices in Brazil
    ANVISA Publishes Three 03 New Resolutions for Cosmetics
    Market Authorization of Medical Devices in Sri Lanka
    Post-Brexit Cosmetics Regulatory Changes in UK

    :- Top Resources


    Copyright 2000- Add2it.com Marketing Pty Ltd. All Rights Reserved.


    Powered by ArticleDirectoryPro